Perubahan Tatanan Perilaku Sosial Pada Generasi Digital

Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah hampir setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari cara berkomunikasi, bekerja, hingga bersosialisasi. Generasi saat ini khususnya Generasi Z dan generasi di bawahnya hidup dalam ekosistem digital yang intens, di mana teknologi tidak lagi menjadi alat sekunder tetapi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Perubahan ini tidak hanya bersifat teknologis, tetapi juga berdampak mendalam terhadap perilaku sosial, norma interaksi, dan struktur relasi antarmanusia. (Rei Zamzami, 2024)

Teknologi informasi telah menggeser pola komunikasi tradisional menuju komunikasi digital yang bergantung pada perangkat dan aplikasi. Selain itu, survei global mengungkap pola baru dalam konsumsi informasi: generasi muda kini lebih banyak mengandalkan platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, menggantikan media konvensional seperti surat kabar atau televisi tradisional. Pergeseran ini tidak hanya mengubah bagaimana mereka menerima informasi, tetapi juga bagaimana mereka terhubung sosial melalui konten yang bersifat personal dan diatur oleh algoritma. 

Data survei menunjukkan bahwa generasi muda, terutama Gen Z, menghabiskan waktu yang signifikan setiap hari untuk media sosial. Menurut survey dari S&P Global Market Intelligence Kagan, penggunaan media sosial di antara konsumen Gen Z mencapai rata-rata 5,1 jam per hari — meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dan jauh di atas rata-rata generasi lain.

Perubahan perilaku sosial yang dipicu oleh teknologi juga mengandung sisi negatif yang harus diperhatikan. Beberapa diantaranya adalah:

1. Tekanan sosial dan kecemasan psikologis. 

Data dari American Psychological Association menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z melaporkan gangguan perhatian dan stres akibat notifikasi smartphone serta ekspektasi sosial di media sosial, yang juga dikaitkan dengan masalah perbandingan diri dan identitas diri.

2. Ketergantungan pada interaksi digital. 

Laporan Common Sense Media menemukan tren meningkatnya penggunaan AI companion apps oleh remaja untuk interaksi sosial, bahkan menggeser kebutuhan akan percakapan tatap muka dengan teman nyata.

3. Isolasi sosial dan perilaku antisosial. 

urvei lain melaporkan tingginya proporsi Gen Z yang mengakui kebiasaan menghindari pertemuan sosial nyata atau bahkan merespons komunikasi secara pasif, yang berdampak pada kemampuan sosial offline.

Lalu, perubahan perilaku akibat teknologi juga terasa kuat di keluarga. Konflik antara orang tua dan anak mengenai penggunaan perangkat digital juga menjadi fenomena sosial yang umum ditemui. Studi menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua merasa “kehilangan waktu berharga” atau "quality time" karena pertengkaran terkait screen time, yang mencerminkan ketegangan antara keterlibatan digital dan hubungan keluarga.

Meskipun banyak pengaruh dan dampak negatif, teknologi juga membuka dan membuat peluang positif untuk generasi muda. Seperti membangun kreativitas digital, menambah relasi online, dan mengasah banyak keterampilan. Interaksi digital ini yang bisa memungkinkan generasi muda mengembangkan kompetensinya 




Sumber:

1. Survey: Younger Gen Zers Spend 5.1 Hours a Day on Social Media | TV Tech https://share.google/uTR2cXnigp4WDwgSH

2. How AI companions are changing teenagers' behavior in surprising and sinister ways | Live Science https://www.livescience.com/technology/artificial-intelligence/how-ai-companions-are-changing-teenagers-behavior-in-surprising-and-sinister-ways

3. Adolescence and anti-social behaviour — the new norm | news.com.au — Australia’s leading news site for latest headlines https://share.google/UE6vD0OwHRDikfB4N

4. Most parents fear they're losing 'precious time' while fighting with kids about digital 'addiction': new study | New York Post https://share.google/V4cZcyO3kkDHeJq6F

Comments

Popular posts from this blog

Bahas Usulan 40 Nama Pahlawan Nasional, Dewan Gelar Bersidang Besok

Deepfake dan Hoaks: Ancaman Baru bagi Demokrasi Indonesia

Wisuda ke-XXIII AKMRTV Jakarta: Wujud Apresiasi atas Capaian Akademik dan Profesional Lulusan